Sudah Saatnya Indonesia Kembangkan Keindahan Alam Negeri

Indonesia adalah negeri yang memiliki panorama alam nan indah tak terkira. Alam pegunungan, hutan, pantai biru, alam bawah laut. Apa saja ada. Dari Sabang sampai Merauke, semua keindahan itu merupakan anugerah Tuhan buat bangsa Indonesia. Bahkan banyak tempat yang masih tersembunyi, tidak diketahui banyak orang.

Kekayaan alam ini harus dilihat sebagai potensi untuk menyejahterakan rakyat Indonesia. Sudah saatnya Presiden Republik Indonesia mengembangkan potensi wisata yang tersebar dari ujung barat hingga ujung timur negeri ini agar Indonesia makin cepat lepas landas. Bukan hanya mempedulikan urusan investasi, membangun pabrik, akan tetapi juga perlu mengembangkan Indonesia satu-satunya the truly Asia, destinasi wisata yang paling lengkap dan paling asyik di dunia.

Kompas.com Sabtu 8 Desember 2012 menulis tentang Pulau Poya Lisa, surga kecil yang tidak tertera di peta. Siapa yang tahu bahwa pulau yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean di Sulawesi Tengah ini merupakan surga tersembunyi? Ini cuma satu contoh kecil.

Beruntunglah sekarang hampir semua media online memiliki kanal khusus yang mengulas soal tempat-tempat wisata di Indonesia. Dengan demikian, makin banyak orang Indonesia melek informasi. Ini juga terkait dengan tumbuhnya kelas menengah baru di Indonesia sebagai dampak positif pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 6,3 persen pada tahun 2012.

McKinsey Global Institute menyebutkan, tahun 2012, jumlah kelas menengah di Indonesia mencapai 45 juta orang. Jumlah kelas menengah akan menjadi 145 juta, atau ada tambahan 90 juta lagi pada tahun 2030. Hal ini tentu merupakan potensi luar biasa. Sektor pariwisata akan berkembang makin pesat. Hotel-hotel baru bermunculan, destinasi wisata dikembangkan.

Makin banyak orang Indonesia yang plesiran di dalam negeri. Managing Director Wego Indonesia Graham Hills menyebutkan, 76 persen pengguna situs perjalanan berasal dari Indonesia dan mereka mencari destinasi dalam negeri. Dari 20 destinasi utama, hanya 4 destinasi di luar Indonesia. Dalam sebulan, Wego.co.id dikunjungi hingga 750.000 pengguna.

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar mengungkapkan jumlah wisatawan nusantara yang melakukan perjalanan dalam negeri pada semester pertama 2012 sebanyak 105.954.040 perjalanan, naik 0,1 persen dibandingkan semester I tahun 2011 yang mencatat 105.849.279 perjalanan. Jumlah ini tidak termasuk perjalanan wisatawan nusantara pada musim liburan Idul Fitri 2012, di mana terdapat pergerakan wisatawan nusatara 16,5 juta. (Kompas.com, 8 Desember 2012).

Peluang yang sudah ada di depan mata harus dimanfaatkan secara jeli oleh pemerintah. Jangan biarkan orang Indonesia menghabiskan liburan hanya ke luar negeri, tapi ajaklah mereka menikmati keindahan alam negeri sendiri.

Percaya kan jika pariwisata mampu membuat sebuah negara kaya raya dan penduduknya sejahtera? Mari kita lihat negara kecil yang kaya raya karena mengembangkan pariwisata.

Maladewa atau Maldives yang luasnya hanya 298 km persegi atau sepertiga Kota Jakarta, dan jumlah penduduknya 394.451 (Juli 2012), menikmati pertumbuhan ekonomi 6,5 persen (tahun 2011) dengan pendapatan per kapita 8.400 dollar AS (tahun 2011).

Menurut WordFactBook, pariwisata merupakan aktivitas ekonomi terbesar Maladewa, menyumbang 28 persen GDP, lebih dari 60 persen dari nilai tukar mata uang asing. Lebih dari 90 persen pendapatan pajak pemerintah berasal dari pajak yang berkaitan dengan sektor pariwisata.

Contoh lainnya, Aruba di kawasan Karibia. Kebetulan saya pernah ke Aruba pada tahun 1994 silam dalam kaitan tugas liputan Kompas. Pulau ini luasnya lebih kecil lagi, yaitu 180 km persegi, jumlah penduduknya 107.635 (Juli 2012). Namun pulau koloni Belanda ini mengandalkan pariwisata. Lebih dari 1,5 juta turis mengunjungi Aruba, 75 persen berasal dari Amerika. Pembangunan hotel meningkatkan hingga lima kali lipat. Pendapatan per kapita Aruba mencapai 21.800 dollar AS (tahun 2005).

Persoalannya adalah Indonesia masih menghadapi problem infrastruktur.Menurut Global Competiveness Report 2010, infrastruktur Indonesia berada di posisi ke-82 dari 139 negara di dunia.

Tak usah jauh-jauh. Coba ke Tanjung Lesung di Pandeglang, Banten. Lokasinya tidak terlalu jauh, namun perjalanan butuh waktu lama, lebih dari 5 jam dari Jakarta, karena kondisi jalan rusak dan berlubang.

Saya juga pernah ke Pantai Sawarna di Lebak, Banten. Keindahan pantai selatan ini sungguh menawan hati. Sayangnya, jalan menuju ke lokasi, umumnya rusak dan berlubang.

Seorang kawan Facebook, Evie Rachmat bercerita dalam timeline Facebook saya, dia sekeluarga pernah ke Toraja. Dari Makassar, butuh waktu 10 jam karena kondisi jalannya rusak. Namun kelelahan terobati setelah menikmati keindahan alam dab budaya Toraja yang menakjubkan.

Demikian halnya jika orang Indonesia ingin menikmati keindahan Raja Ampat di Papua Barat. Biayanya sama mahalnya dengan biaya ke Eropa akibat keterbatasan infrastruktur, bandara, jalan, akomodasi. Ini hanya beberapa contoh.

Pemerintah sebenarnya melalui program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Indonesia (MP3EI), sudah mencanangkan pembangunan proyek infrastruktur di seluruh negeri. Hasilnya memang belum terlihat karena MP3EI baru dicanangkan Mei 2011 lalu. Kita berharap jika infrastruktur selesai dibangun, Indonesia betul-betul lepas landas, menjadi negara maju yang masuk tujuh besar dunia pada tahun 2030, seperti prediksi McKinsey Global Institute.

Serpong, 9 Desember 2012

Robert Adhi Ksp

Advertisements
Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment